Friday, September 16, 2011


MENGAPA KAU HARUS ADA?

Sulit bagiku berpaling
Pejamkan mata , mengabaikanmu
Tapi mengapa sulit juga
Bila ku terus menatap hatimu
Akan gejolak yang tak dapat ku genggam selalu
Oh , harummu kornet..
 sayang aku berpuasa hari ini..


TERBEBAN

Langkah ini semakin berat..
Jiwaku t’lah lelah..
Semangat ku pun , sudah patah
Entah bagaimana lagi aku sanggup tuk bertahan

akan semua beban ini , akan semua
Aku tak anggup lagi .. aku tidak sanggup..
Dengan membawamu , memikulmu..
Karung beras 10 kg ..

KETIKA




Tenggelam  dalam  hati
merasuk  nyawa tinggalah  pergi
Paku  tertusuk
Duri  pun  tertanam
Hilang  akal
Perih  tak  seberapa  yang  kurasa
Tertutup  mata  batin
Buta  akan  segala
Mencari  coreng  dalam diri
Memejamkan  mata..
Berluap  dalam  rasa, bercampur, menghantam,  berpecah..
laksana  gelombang dalam  lautan
hinga,
tak  sanggup  berkata apa.. apa..
di  sini  aku  tersudut dalam  sunyi
senyap,  lelap  sang  sepi
pecah  seketika..
tersentak !!
saat j atuh sang air mata


Wednesday, September 14, 2011

cerpen pertama CERITA DARI POHON

Cerita Dari Pohon
Aku gak tahu kenapa semua jadi seperti ini. Aku gak ngerti kenapa aku harus ngalamin semua ini. Apa ini jadi akhir dari sisa hidupku yang singkat? Banyak hal yang sudah aku laluin dalam hidupku, dan semua berjalan begitu singkat. Seketika datang, lalu pergi begitu saja. Tetapi ada satu hal yang menjadi begitu panjang untukku. Sama seperti panjangnya jalan yang aku lintasi, dan entah ke mana akan membawaku. Aku masih berada di sini, di suatu tempat yang tertutup rapat dan gelap. Tak aku rasakan tanah di jemari kakiku. Tak ada lagi kicauan burung-burung yang sering membangunkan aku ketika terlelap dalam tidur. Mereka yang menghinggapiku atau berjalan kecil kawanan semut, tupai yang melompat ke sana kemari, bersembunyi di antara rerimbunan kepalaku. Kini aku hanya di sini, di tempat yang tidak aku tau tempat apa ini. Di tengah kesadaran dan lelap yang begitu memberatkan ini, pikirku  melayang. Teringat aku dengan sesosok lelaki, keriput kulitnya, rambutnya yang kian memutih, begitu kuingat betul setiap perubahan warna pada rambutnya. Berjalan dia dengan menenteng ember yang berisi air untuk menyiramiku di setiap pagi. Setiap kali menyiramiku dan selalu merawatku, sampai pada suatu senja di akhir hayatnya. Pagi yang cerah itu tak lagi kulihat kakek yang membawakan aku air ataupun memupukiku. Sejak pagi itu aku tidak lagi bertemu dengan kakek. Aku begitu merindukannya. Sosok tua yang rapuh, namun begitu cerah wajahnya setiap kutatap dirinya yang menyongsongkan pagi membangunkan aku. Masihku ingat juga, teman-temanku yang satu per satu menghilang meninggalkan aku di setiap tengah malam, atau di pagi buta. Semua berawal dari seorang pemuda yang memindahkan aku dari tempat tinggal kakek. Dia membawa aku pergi ke tempat yang begitu jauh, dan di sanalah dia membawaku bertemu dengan teman- temanku. Mereka ramah dan banyak berbincang denganku saat itu. Aku menjadi tahu juga nama tempat di mana aku akan tinggal selamanya di tempat yang mereka sebut ’cagar alam’. Semenjak itu aku mengawali hari- hari baruku bersama teman- temanku yang begitu baik kepadaku. Tak berapa lama setelah hari- hari yang begitu menyenangkan, menjadi berubah ketika suatu peristiwa terjadi di suatu malam. Saat itu aku sedang terlelap pulas. Suatu sorot lampu mengarah padaku membangunkan aku. Aku tak bisa melihat mereka dengan jelas. Tapi aku tajam sekali mendengar suara teman- temanku dari kejauhan yang menjerit menangis. Lalu terdengar banyak suara lain dari kejauhan dan lama- lama terdengar dari sekelilingku juga. Keringat bercucuran dari dahiku, bibirku jadi gemetar karena jantungku berpacu seakan berperang. Aku ketakutan setengah mati. Apalagi begitu aku mendengar suara ‘Brugg..!!’. aku mengintip di sela–sela ketakutan, melihat teman-temanku ditumbangkan dengan kebengisan. Aku bingung, panik , hingga aku sulit utuk bernafas. Aku hanya bisa menangis melihat teman-temanku berjatuhan lalu tak lama setelahnya aku merasakan sakit hingga aku jatuh pingsan. Saat kepalaku terantuk oleh sebuah batu besar. Baru sadar aku saat itu. Aku diseret oleh beberapa orang yang bertubuh besar dengan wajah bengis mereka. Aku mau melepaskan diri, tapi mereka kencang betul mengikatku, dan aku hanya bisa merintih ketakutan. Sampai di penghujung jalan, aku dihanyutkan ke dalam sungai. Semangatku tergugah, sedikit menenangkan hati ini. “ini jadi kesempatanku untuk pergi” apalagi mereka juga melepaskan ikatan yang melilit tubuhku. Aku akan membuka jalan melarikan diri, tapi bagaimana? melawan arus sungai meraih tepian. Arus air sungai terlalu kuat. Aku menjadi susah payah. Aku pun berusaha menepi, meraih rerumputan. Tidak mungkin ini sangat jauh untuk aku jangkau. Lalu aku berpegangkuat pada sebuah batu besar di tengah sungai, yang juga menahan diriku. Tapi percuma saja, aku kembali terhanyut. Semua sisi-sia. Aku sekarang hanya terombang-ambing di antara kucuran air yang jatuh dari bukit ini. Aku berfikir kembali, untuk mencoba jalan baru, melarikan diri. Tapi aku harus bagaimana? aku juga sudah lelah mencobanya, toh akan menjadi sia-sia. Hilir sungai yang juga tak bertepi ini, masih membawaku entah ke mana, dan aku masih terhanyut lemah dengan segudang harapan akan sesuatu yang dapat menyelamatkan aku. Pandanganku mengarah ke segala tempat di mana aku hanyut di atas air yang begitu dingin aku rasa. Aku tersentak, tak percaya, lalu ku menatap saksama menbuka mataku selebar mungkin. Dari kejauhan aku melihat temanku, mangrove. Aku melihatya meraih tepian dengan susah payah, untuk membebaskan diri seperti yang kulakukan sebelumnya. Tapi ternyata dia berhasil meraih rerumputan di pinggir sungai itu, lalu bertepi. Aku senang bisa melihatnya, lalu aku berteriak dengan sisa tenagaku, sekeras mungkin, ”mangrove”. Mangrove yang berhasil menepi, tak segan sedikitpun memberikan pertolongan padaku dengan mengulurkan dahannya dan berusaha menarikku menuju tepian. Sulit saat itu keadaannya. Aku berupaya sekeras mungkin menarik diriku menuju ke tepian melawan arus sungai, dan aku hampir berhasil, ya sedikit lagi sampai. Namun tiba- tiba aku tersentak, ketika orang-orang bertubuh besar melihat kami yang menuju ke tepian. Kemudian mereka mengarah berjalan cepat ke arah kami. Aku erat memegang dahan mangrove, begitu juga dengan mangrove yang juga ketakutan dan menahan aku seerat mungkin. Orang-orang itu berusaha melepaskan kami. Dengan bengisnya dia mengarahkan kapaknya yang begitu besar dan memotong dahan mangrove yang menggenggam erat aku. Dahan mangrove patah, dan aku pun kembali terhanyut ke tengah sungai. Ku lihat orang-orang itu menghantamkan dengan bengis ke arah tubuh mangrove. Dengan bengisnya mereka membelah tubuh mangrove hingga menjadi dua, lalu menghanyutkanya ke tengah sungai. Aku menutup erat mataku lalu menangis dalam batin. Mereka sangat kejam, terkutuk mereka semua tanpa ada rasa iba sedikitpun. Aku begitu mengingat kejadian itu, yang membuatku merasa begitu pilu, dan selalu menitihkan air mata ketika ku kembali mengingatnya. Tiba- tiba tempat yang membawaku dengan lajunya yang begitu kencang berhenti mendadak hingga aku tersadar dari lamunku. Aku menjadi panik seketika mendengar reributan yang berasal dari luar tempat ini, lalu tak lama suara letusan pistol sepertinya aku dengar kemudian. Lalu ada yang berteriak, menggeretak dan berkata sangat keras, ”Jangan Bergerak”. Aku menjadi semakin panik.  Ketika di tempat di mana aku disekap di buka dengan paksa oleh orang- orang asing lagi. Mereka menyorotiku dengan lampu-lampu yang mereka bawa. Tunggu aku pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Ku ingat-ingat sebentar dengan melihat mereka saksama. Mereka memakai baju yang sama, rapi kulihat. Ya benar, itu benar mereka, orang-orang yang berada di pos masuk ketika aku akan di bawa ke cagar alam., Lalu mereka membawaku dan semua teman- teman yang berada dalam tempat itu juga. Dan aku kembali tidak tahu, akan dibawa ke mana lagi. Aku berharap bisa bertemu dengan teman-temanku dan berkumpul kembali di hutan. Semoga saja mereka membawa kami ke sana. Jauh sekali sepertinya menuju kembali ke hutan, aku sudah tak sabar bertemu kembali dengan teman-temanku. Lalu tak lama setelah itu aku tiba di suatu tempat. Seorang temanku berbisik kepadaku, sekarang ini kami berada di kepolisian hutan di daerah cagar alam itu. Kami diamankan untuk sementara waktu di situ, dan aku menjadi lebih baik untuk saat ini, karena orang- orang besar yang bengis itu telah di bekuk dengan mereka yang berseragam rapi, dan aku yakin mereka tidak akan mengganggu kami lagi dengan membawa kami pergi jauh. Dari menyusuri sungai lalu dibawa pergi jauh entah ke mana. Beberapa hari telah berlalu, aku belum juga bertemu dengan teman-temanku, aku pikir di sini aku akan bertemu dengan teman-temanku, padahal aku sudah sangat merindukan mereka. Lama kelaman aku juga sudah tidak betah lagi untuk bertahan dengan keadaan seperti ini, hanya diam tergeletak. Mengapa mereka tidak memupukiku atau menyiramkan air saja lah, mereka tidak tahu betapa hausnya aku. Jemari kakiku ini juga jadi sulit untuk menyerap sari- sari makanan dari dalam tanah. Setelah beberapa lama setelah peristiwa itu, setelah hari-hari yang sangat menyebalkan itu, aku menjadi tersentak di suatu hari. Orang- orang yang berseragam rapi, membawa aku dan teman- temanku ke suatu tempat. Akhirnya kami dipindahkan juga dari tempat yang tidak menyenagkan itu. Inilah saat yang sangat aku tunggu-tunggu. Lalu kami tiba di suatu tempat, di sana aku bertemu dengan beberapa teman lama ku, dan aku sangat senang bertemu kembali dengan mereka semua di sana. Seperti di hutan kami berbincang- bincang lagi, ku rasa ini akan menjadi hari baru yang lebih baik, hanya saja tempat dimana saat ini kami berkumpul sedikit berbeda karena tempat kami ini sangatlah gersang tiada rerumputan sedikitpun, hanyalah pasir-pasir yang panas. Sampai pada di penghujung senja, mungkin akan menjadi senja terakhir di mana aku melihat matahari yang menuju tidurnya dengan terbenam lembut. Saat pagi harinya, menyongsong cerah dan ceria. Ku kira, benar-benar ada hari itu. Hari baru yang menyenangkan. Ku lihat orang-orang itu membawa jeligen besar dan menyirami kami, aku sangat senang, aku sudah lama menanti begitu haus aku, ”tunggu, rasanya tidak seperti air“. Lalu seketika itu, mereka menyulutkan api dari kotak kecil yang dilempar ke arah kami dan, aku gak tahu kenapa semua jadi seperti ini.